SELAMAT DATANG

Terima kasih bagi para pengunjung blog yang sudah mau mampir, Like, dan share ke Facebook dan Twitter blog saya ini.
WARNING:
-DiLarang Keras untuk tidak melakukan Copas (Copy Paste).
-DiLarang Keras tidak Bercomentar dengan bahasa yang dianggap tidak sopan.
-DiLarang Melakukan Spam Tanpa HAL YANG JELAS.
Mau Liat Isi Selengkapnya.? Klik Aja Judul Posttingannya dan Jangan Lupa Buku Tamunya Di Isi yea

Jumat, 22 Juni 2012

Jenis - Jenis Usaha Budidaya Ikan

JENIS-JENIS USAHA BUDIDAYA IKAN
 
 
Jenis perairan dapat dibagi 3 yaitu perairan tawar, payau dan asin (laut).  Karena jenis perairannya berbeda, maka jenis ikan yang akan dibudidayakan juga berbeda.  Pada topik jenis-jenis usaha budiaya ikan akan dibahas antara lain :
  1. Tipologi wilayah budidaya
  2. Jenis usaha budidaya ikan
 

Secara umum tipologi wilayah budidaya dibedakan menjadi :
  1. Lokasi budidaya air tawar
  2. Lokasi budidaya pantai (air payau)
  3. Lokasi budidaya laut


Ikan air tawar ditinjau dari ciri pokok habitatnya dapat dibedakan menjadi 2, yaitu kelompok labyrint dan non labyrint.  Kelompok labyrint dicirikan dengan proses bernafasnya yang mengambil oksigen langsung dari udara dengan pernafasan tambahan berupa labyrint.  Sedangkan pada kelompok non labyrint tidak ada. 
Contoh ikan kelompok labyrint  :  lele, gurami dan gabus
Contoh ikan kelompok non labyrint  :  mas, nila dan lain-lain
Kriteria tipologi lokasi untuk kedua kelompok ikan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel   Kategori dan Kriteria Lokasi Budidaya Air tawar
Kelompok Spesies
Oksigen   (% sat)
Gerakan Air
Elevasi Lahan
Debit Terhadap Vol. Air
Labyrint
10 - 100
Tenang
Rendah - Sedang
Kecil - Sedang
Non Labyrint
50 - 100
Tenang - Deras
Rendah - Tinggi
Sedang – Besar

Untuk budidaya air payau ditetapkan tiga kelompok tipologi kesesuaian yang didasarkan atas habitat organisme dan kemampuan pengendalian kondisi lahan yaitu :
1.  Kelompok udang
2.  Kelompok udang dan bandeng
3.  Kelompok udang dan tripang
Budidaya udang dianggap paling sedikit hambatannya karena  kemampuan pengendalian dengan teknologi cukup memadai., sehingga apabila suatu lokasi dinyatakan sesuai untuk budidaya bandeng atau tripang, maka dianggap sesuai untuk budidaya udang. Sebaliknya suatu lokasi yang dinyatakan sesuai untuk budidaya udang belum tentu sesuai untuk budidaya bandeng maupun  tripang.
Ikan bandeng yang dipelihara ditambak cenderung membutuhkan kadar garam rendah dan kesuburan tinggi, sedangkan tripang tidak tahan pada kadar garam kurang dari 25 ppt dan tidak terlalu membutuhkan kesuburan.
Kriteria tipologi lokasi untuk ketiga kelompok tersebut dapat dilahat pada tabel dibawah ini.

Tabel Kategori dan Kriteria Lokasi Budidaya Air Payau
No.
Kriteria
Udang, Bandeng, Nila
Udang, Tripang
Udang
1.
Curah hujan
Sedang - Tinggi
Rendah - Sedang
Rendah - Tinggi
2.
Input air tawar
Sedang - Besar
Kecil - Sedang
Kecil – Besar
3.
Substrat laut
Berlumpur
Berpasir
Lumpur/berpasir
4.
Kesuburan air dan
Tinggi
Rendah - Sedang
Rendah - Tinggi
tanah


Jika dilihat dari tipe habitatnya, komoditas yang dapat dibudidayakan pada perairan asin (laut) dapat dikelompokkan menjadi 6, yaitu :
1. Kelompok rumput laut
2. Kelompok kerang darah dan tiram
3. Kelompok kakap putih
4. Kelompok ikan kerapu
5. Kelompok abalone dan tiram mutiara
6. Kelompok teripang
Kriteria lokasi untuk tiap-tiap kelompok dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel Kriteria Lokasi Tiap-Tiap Habitat
No.
Komoditas
Air Tawar
Substrat Dasar
Coral
Kedalaman (m)
1.
Rumput laut
Tidak ada
Karang
Ada
0 – 4
2.
Kerang darah dan tiram
Banyak
Lumpur
Tidak
0 – 5
3.
Kakap putih
Sedikit-banyak
Lumpur/pasir
Tidak
5 – 30
4.
Kerapu
Tidak ada
Karang
Ada/tidak ada
5 – 30
5.
Abalone& mutiara
Tidak ada
Karang/pasir
Ada/tidak ada
5 – 30
6.
Teripang
Tidak ada
Lumpur/pasir
Tidak
0 – 5


Jenis usaha budidaya ikan jika dilihat dari segi kepemilikan lahan dapat dibagi 2, yaitu lahan milik pribadi ataupun lahan  sewa dan lahan milik umum.  Untuk lahan pribadi maupun lahan yang kita sewa dapat berupa kolam dan tambak.  Sedangkan untuk lahan umum, contohnya perairan waduk dan laut, kita dapat usahakan dengan sistem keramba, kurungan tancap, rakit dan patok tancap.

1. kolam
Kolam adalah salah satu sistem pemeliharaan ikan dalam petakan tertutup dengan input air tawar.  Jenis dan ukuran kolam ikan sangat beragam.  Ada  kolam yang dikonstruksi semen, ada kolam tanah dan ada juga kolam yang dilapisi plastik.  Ukuran luasnya mulai dari       10 m2 sampai 5000 m2.  Kedalaman airnya antara 40 sampai 100 cm.  Dilihat dari input-nya, kolam yang input airnya dengan debit tinggi biasanya mentargetkan produkstivitas yang tinggi, sedangkan kolam tergenang tidak mentargetkan produktivitas tinggi.
2. Tambak
Pada prinsipnya tambak sama dengan kolam, hanya saja inputnya berupa air asin atau payau.  Pemasukan dan pengeluaran air tambak mengikuti gerakan pasang surut laut atau menggunakan pompa.  Perbedaan lainnya adalah ukuran dan kedalaman air.  Ukuran luas tambak biasanya antara 1.000 m2 sampai 20.000 m2 tiap petak. Sedangkan kedalaman airnya berkisara antara 60 – 150 cm.
Pembagian jenis tambak, khususnya tambak udang, didasarkan atas input air, benih, pakan dan energi, dibedakan menjadi tambak sederhana, semi intensif dan intensif.  Beberapa ciri ketiga jenis tambak tersebut dapat dilihat pada tabel berikut .
Tabel Kriteria Tambak Udang
Kriteria
Sederhana
Semi-intensif
Intensif
Penebaran benih
Kurang dari 5
5 – 15
Lebih dari 5
(induk/m2)
Pakan buatan
Tidak bergantung
Setelah mencapai ukuran tertentu
Sepenuhnya bergantung
Pergantian air
Bergantung pasang
Pompa dengan debit kecil
Pompa dengan debit besar
Penggunaan kincir
Tidak ada
Setelah mencapai ukuran tertentu
4 – 10 pk/ha
3.  Karamba Apung
Karamba apung adalah kurungan (cage) yang diletakkan di badan perairan umum yang diberi benih ikan.  Badan perairan ini biasanya cukup dalam, sehingga kurungannya dapat diapungkan dengan menggunakan pelampung serta dilengkapi dengan jangkar.
PERSIAPAN BAGI PRODUKSI IKAN DALAM KERAMBA

Budidaya ikan adalah pemeliharaan ikan yang meliputi pembesaran dan perbanyakan populasi dalam kondisi yang terkendali atau terkontrol, termasuk keramba-keramba yang dilayangkan dalam kolam, danau dan waduk air tawar.  Keramba adalah wadah-wadah yang diselubungi semua sisi dan dasarnya dengan material yang mengurung ikan didalamnya sambil memberi kemungkinan terjadinya pertukaran air bebas sedangkan limbahnya merembes ke dalam badan air disekitarnya.

Budidaya ikan dalam keramba tidak mempunyai standar yang khusus, sehingga banyak sekali keragamannya meliputi bentuk ukuran dan bahan konstruksi keramba, tipe lingkungan perairannya dan jenis-jenis ikan yang dibudidayakan dalam keramba.
Contoh budidaya ikan dalam keramba di beberapa negara :
  1. Ikan mas dalam keramba 4 persegi panjang, bambu belahan atau bilah/papan kayu yang dibenamkan ke dasar aliran air sungai dangkal di Indonesia.
  2. Pangasius catfish dalam keramba bujur sangkar dari bilah kayu yang dilayangkan di bawah rumah-rumah apung di waduk-waduk  di Thailand.
  3. Channel catfish dalam keramba bentuk silinder dari bahan anyaman kawat yang dilayangkan dalam air limpahan yang dipanaskan dari pabrik pembangkit tenaga di Texas, Amerika Serikat.
  4. Tilapia biru dalam keramba persegi panjang dari jaring nylon yang dilayangkan dalam kolam-kolam penelitian di Alabama, Amerika Serikat.
  5. Benih Indian carp yang dirawat dalam keramba jaring nyamuk yang dilayangkan dikolam-kolam di India
  6. Salmon dalam keramba besar yang terbuat dari jaring nylon yang dilayangkan dalam teluk laut di Eropa.
Untuk yang baru akan melakukan budidaya ikan dalam keramba harus mengetahui syarat-syarat khusus, diantaranya kriteria kolam, danau dan waduk, kriteria keramba, kriteria benih ikan, kriteria pakan dan kriteria mutu air.

 

Kriteria Kolam, Danau dan Waduk

Fisik kolam
a. Areal (air) kolam harus 2.000 m2 atau lebih besar.
b. Tinggi permukaan air (volume) harus bertahan konstan.
c. Kolam tidak boleh ditempatkan dalam lembah yang dalam dan sempit atau dilindungi dari hembusan lembut angin oleh pohon‑pohonan.
d. Air kolam harus berwarna hijau plankton (transparansi dari 40 sampai 100 cm), dan tidak banyak berlumpur atau berwarna coklat rawa.
e. Dasar dan air kolam tidak boleh mengandung daun‑daun pohon, batang, ranting dan kotoran sejenis yang menimbun.
f.  Kolam (perairan terbuka) harus bebas dari ikan "liar", dan jenis‑jenis ikan yang dibudidayakan kecuali dalam situasi di mana grass carp, filter carp dan spesies lain yang  merupakan bagian dari program pengelolaan.
g. Tidak boleh ada konflik dalam penggunaan    kolam
 h. Kolam harus mudah  dijangkau untuk tujuan pengelolaan rutin dan pengamanan
Fisik Danau dan Waduk
a. Lebih disukai danau dan waduk yang bebas polusi yang kesuburannya rendah. Air harus bening/cerah atau hijau plankton lembut (transparansi lebih besar dari 100 cm) dan tidak banyak berlumpur atau coklat rawa.
b. Danau‑danau dan bagian dari danau dan waduk yang lebih dari seperdua dari kedalamannya tidak mengandung oksigen   terlarut sebaiknya jangan digunakan untuk budidaya ikan keramba selama jangka waktu kemungkinan penjungkirbalikan lapisan air (overturns) kecuali jika areal keramba berada pada perairan dangkal yang tidak terkena overturns.
c. Perubahan‑perubahan tinggi permukaan air harus diketahui dan tempat yang dipilih bagi keramba-keramba kedalamannya  minimal  50 cm lebih dalam dibandingkan keramba‑ keramba.
d. Pola tiupan angin dan arus air juga harus  dipertimbangkan ketika memilih penempatan keramba.
e.  Daerah penempatan keramba harus bebas dari
     tumbuhan air.   
f.  Daerah keramba harus berada dalam areal yang mudah diawasi petugas, baik bagi tujuan      pengelolaan maupun keamanan.
Kriteria Keramba
Fisik Keramba
a. Dibuat dari bahan yang kuat dan cukup tahan lama  dan memungkinkan terjadinya pertukaran air yang tidak terbatas.
b. Menahan pakan dalam keramba sampai pakan tersebut dimakan ikan.
c.  Memungkinkan semua limbah ikan (pernafasan dan metabolik) meninggalkan keramba tanpa  mengumpul.
d. Tidak menggesek serta tidak melukai atau menimbulkan stres pada ikan.
e. Ukuran keramba dinyatakan dengan volume dan tidak boleh lebih kecil dari 1 m3 dan tidak lebih besar dari 10 m3.
f. Hasil optimum yang diharapkan menurun dengan ditingkatkannya volume (contoh, dalam kolam perkiraan hasil mas menurun dari sekitar 150 kg dalam keramba 1 m3 menjadi sekitar 130 kg/m3 dalam keramba 10 m3). Sehingga keramba‑keramba yang lebih kecil (1 sampai 4 m3) lebih mudah mengelolanya.
g. Bentuk keramba tidak penting, paling tidak bagi keramba ukuran kecil.
h. Bahan‑bahan yang digunakan untuk meng-konstruksi keramba bermacam-macam.  Bahan‑bahan tersebut bisa  lunak dan luwes (misal, knotted atau knotless nylon) atau kaku tidak luwes (misal, solid plastic mesh dan plastic coated weld wire).
Tutup Keramba
a. Keramba perlu ditutup. Tutup keramba buram (opaque) komplit atau sebagian (+50%), yang dapat dibuka, diperlukan untuk beberapa alasan, terutama untuk melindungi ikan terhadap burung dan binatang buas lainnya serta terhadap sengatan sinar matahari langsung. Tutup buram di atas keramba catfish telah menghasilkan performansi produksi 10% lebih tinggi dibandingkan produksi dalam keramba dengan tutup transparan atau tanpa tutup.
b. Walaupun tutup keramba diperlukan, kadang-kadang diperlukan juga untuk membukanya dan  mengamati permukaan air serta  dapat melihat dan   mengambil ikan‑ikan yang mati yang muncul ke permukaan. Ikan-ikan yang  mati tersebut biasanya akan mengapung 2‑3 hari setelah rnati.
Kriteria Benih Ikan
Mutu Benih
a. Benih yang akan ditebarkan ke dalam keramba harus yang berukuran seragam.
b. Benih  harus bebas penyakit.
c. Benih yang ditebar merupakan benih yang ung-gul dalam pertumbuhan.
Jumlah Benih yang Ditebarkan
a. Jumlah benih yang ditebar harus sesuai dengan volume keramba yang kita gunakan.
b. Berat maksimum yang disarankan pervolume keramba menurun dengan meningkatnya volume keramba.
c. Standing crop optimum yang maksimum disa-rankan bagi danau dan waduk terbuka adalah 200 kg ikan/ m3 keramba atau 300 kg/ha luas perairan total.
d. Dianjurkan padat penebaran minimum 80 ikan/ m3 keramba. Padat penebaran maksimum akan bervariasi sesuai dengan mutu lingkungan.
e. Umumnya  beberapa ikan mati selama 7 sampai 10 hari pertama setelah penebaran. Namun demikian, kalau ikan yang ditebarkan sehat dan ditangani secara wajar, dapat diharapkan kelangsungan hidupnya  mendekati 100% jika suhu air pada saat penebaran sekitar 15oC, dan diharapkan kelangsungan hidup sebesar 92% kalau suhu air sekitar 25oC
 
Kriteria Pakan
Mutu Pakan
a.  Pakan harus bermutu terbaik (excellent).
b.  Tingkat protein pakan  minimumnya 32 sampai 36% bagi catfish dan 28 sampai 30% bagi mas dan tilapia.
Memberi Makan  lkan‑ikan.yang Dikerambakan.
a. Jumlah pakan yang akan dimakan ikan yang dikerambakan berbeda-beda tergantung suhu perairan dan ukuran ikan. Jumlah pakan  yang diberikan pada suhu‑suhu lebih panas (mencapai sekitar 29oC) dan bagi ikan berukuran   kecil akan lebih banyak.
b.  Untuk beberapa hari pertama pemberian pakan dilakukan dengan kelajuan 3% "bobot badan" (3 kg pakan per 100 kg ikan); setelah ikan makan aktif' berilah makan sebanyak yang mau dimakannya dalam jangka waktu 2 sampai 5 menit.
c. Beberapa jenis ikan, khususnya catfish, normaI-nya makan malarn hari tapi mereka harus dilatih makan siang hari. Waktu makan yang disukai antara jam 08:00 pagi sampai 16:00 sore.
d. Memberi makan  ransum harian dalam 2 atau 3 kali pemberian, berjarak 6 sampai 8 jam, akan menghasilkan pertumbuhan agak lebih cepat dan efisiensi pakan lebih baik, teristimewa untuk ukuran ikan lebih kecil dan untuk tilapia dan mas.
e.  Pemberian makan berlebihan, yang ditunjukkan oleh pakan yang tersisa tidak dimakan selama 10 menit atau lebih setelah pemberian makan, harus dihindarkan.

Penyimpanan Pakan
Belilah pakan secukupnya saja yang akan digunakan 4 sampai 6 pekan. Simpanlah pakan di lokasi yang kering, berventilasi, terlindung dan sejuk.

 
 
Kriteria  Mutu Air
Oksigen
a. Kadar oksigen terlarut  adalah faktor penting  bagi ikan yang dikerambakan.
b. Secara normal dalam kolam ikan dan danau ser-ta waduk yang kaya hara, oksigen berlimpah pada sore hari dan terbatas pada dini hari.
c.   Pengelolaan oksigen dapat dilakukan dengan cara memelihara populasi fitoplankton
maupun dengan memakai aerator, misaInya kincir air.

Suhu
Suhu air optimum bagi pertumbuhan ikan mas, catfish dan tilapia berkisar dari 26oC sampai 28oC.
Makin rendah suhu, tingkat pertumbuhan ikan akan makin berkurang.  Begitu pula dengan makin meningkatnya suhu bisa mengakibatkan beberapa penyakit bahkan kematian pada ikan.

Limbah Bersifat Nitrogen
Amonia dan nitrit adalah bentuk‑bentuk limbah senyawa yang mengandung nitrogen sebagai hasil dari cernaan protein (sama seperti urin pada ternak). Limbah‑limbah ini menjadi masalah pada produksi ikan intensif tapi tidak terlalu menjadi masalah pada jenis‑jenis ikan yang dikerambakan.

USAHA BUDIDAYA IKAN DALAM KERAMBA JARING APUNG

1 komentar: